Pages

Subscribe:

Sabtu, 22 Juni 2013

Masuk Islam Disebabkan Oleh Celana Dalam (Renungan)




Terkesan aneh dan janggal judul artikel kali ini, namun hal itu sama sekali bukan untuk nyeleneh atau apalah, namun lebih dari kepada pemahaman, bahwa sebuah hidayah memang bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.

Selama ini mungkin kita lebih sering mendengar, masuk Islam-nya seorang non muslim ke dalam Islam disebabkan oleh hal-hal yang luar biasa dan penting. Seperti dokter Miller seorang penginjil Kanada yang masuk Islam setelah menjumpai I’jaz Qur'an dari berbagai segi. Namun, kali ini benar-benar tidak biasa. Ya, masuk Islam gara-gara celana dalam.

Fakta ini dikisahkan oleh Doktor Sholeh, seorang pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi. Saat ia ditugaskan ke Inggris, ada seorang perempuan tua yang biasa mencuci pakaian para mahasiswa Inggris termasuk pakaian dalam mereka.

Tak ada sisi menarik pada wanita ini, tua renta, pegawai rendahan dan hidup sendirian. Setiap kali bertemu, dia selalu membawa kantong plastik berukuran besar yang terisi penuh dengan pakaian kotor. Untuk pekerjaan kasar seperti ini, penghuni rumah jompo ini terbilang cekatan di usianya yang sudah terbilang uzur.

Di Inggris, masyarakat yang memiliki anggota keluarga lansia biasanya cenderung memasukkan mereka ke panti jompo. Dan tentu saja keadaan miris ini harus diterima kebanyakan para orangtua dengan besar hati,agar tidak membebani anak-anak mereka.

Namun, di tengah kondisi seperti itu, sepertinya hal tersebut tidak membuat kecil hati tokoh kita kali ini, yang justeru begitu getol mengisi hari-harinya bergelut dengan cucian kotor.

Wanita baya itu lebih suka dipanggil auntie atau bibi. Dia sudah bekerja sebagai petugas laundry hampir separuh usianya. Beruntung baginya masih ada instansi yang bersedia mempekerjakan para manula seperti dirinya.

“Aku merasa dihargai meski sudah tua. Lagipula, orang-orang seperti aku ini sudah tidak ada yang mengurus, kalau bukan diri sendiri. Anak-anakku sudah pada menikah dan tinggal bersama keluarga mereka masing-masing. Suamiku sudah meninggal. Walaupun anak-anak suka menjenguk, tapi aku tetap ingin punya kegiatan sendiri untuk mengisi masa tua,” ujarnya.

“Bukan untuk kerja yang berat memang, tapi setidaknya, selain menambah penghasilan, juga mengisi hari tua. Mungkin itu lebih baik, daripada harus tinggal diam di panti jompo.” Ujarnya lagi dengan wajah sendu.

“Sedih juga kalau harus tinggal sendirian. Seperti seorang temanku. Dia juga dulu bekerja sebagai petugas laundry bersamaku. Sampai akhirnya, anak perempuan satu-satunya menikah. Namun setelah menikah, anak perempuannya itu tidak pernah menghubunginya,” bibi berkisah.

Bagi sang Bibi, profesinya sebagai petugas laundry justru membuatnya lebih dekat dengan sepak terjang, laku-liku penghuni asrama yang rata-rata adalah mahasiswa dari luar Inggris. Sang Bibi paham betul kebiasaan para mahasiswa yang tinggal di asrama ini, selain belajar sehari-hari, mereka pergi clubbing untuk sekedar “having fun”. Banyak asrama memiliki bar, café, ruang duduk untuk menonton televisi, ruang musik dan fasilitas olahraga sendiri.

Dan salah satu sisi negatif pergaulan dengan orang Inggris ialah apabila mereka sudah dekat dengan botol miras, biasalah mereka akhirnya sampai benar-benar mabuk. Dan dapat dibayangkan kekacauan yang terjadi. Muntah merata di sembarang tempat, kencing dalam celana dan sebagainya.

Hal inilah yang merupakan perbuatan paling bodoh yang pernah dilakukan oleh peradaban manusia, sejak terciptanya minuman beralkohol. Bukan saja menghilangkan akal sehat, akan tetapi juga si pemabuk akan merasa kelelahan dan sakit kepala yang teramat sangat (hangover).

Saat para penghuni asrama masih dibuai mimpi karena kelelahan habis clubbing semalaman suntuk. Tinggalah sang Bibi memunguti pakaian kotor itu pada setiap harinya. Dan terkadang harus diangkut dari kamar, jauh sebelum mereka bangun dari tidur.

Kemudian disortir dengan teliti satu persatu berdasarkan jenis bahan, ukuran, warna, dan yang lebih spesifik lagi, dipisahkankannya pakaian dalam dari yang lain. Begitu pekerjaan rutin itu dilakukan dengan penuh dedikasi tinggi, walau diujung usianya yang semakin menua.

Waktu terus berjalan, sementara sang Bibi tanpa putus asa terus bergelut dengan ‘dunia kotor’nya. Idealnya, di penghujung usianya itu seharusnya masa bagi seseorang menuai hasil kerja payahnya di masa muda. Namun situasilah yang menyebabkan dia harus menanggung berbagai persoalan hidup, maka sungguh itu merupakan masa tua yang tidak membahagiakan.

Di dalam kondisi yang sudah tidak mampu banyak berbuat, dia justru dituntut harus banyak berbuat. Dalam kondisi produktivitas menurun, ia justru dituntut untuk berproduksi tinggi.

Entah sampai kapan dia harus melakoni pekerjaan itu. Maka, sampailah suatu saat asramanya kedatangan penghuni baru, yaitu beberapa mahasiswa muslim dari Timur Tengah yang mendapat tugas belajar dari negaranya. Mereka sudah terdaftar akan menempati salah satu kamar di asrama tempat sang Bibi bekerja.

Bagi kebanyakan pelajar timur tengah, sangat langka memilih tinggal di asrama. Mereka biasanya membeli rumah atau flat yang sudah disesuaikan untuk menampung kelompok kecil siswa, pasangan atau keluarga. Ada juga beberapa pemilik tempat perorangan mengijinkan rumah-rumah mereka dikelola dan disewakan.

Tinggal di asrama merupakan cara terbaik untuk bertemu orang-orang baru dan menjalin persahabatan yang langgeng. Inilah salah satu pertimbangan mereka memilih tinggal di asrama. Kesadaran inilah yang menepis kekhawatiran akan terjadinya geger budaya atau “cultural shock“.

Hidup dalam komunitas non muslimlah justru kita dituntut untuk membuktikan nilai-nilai Islam yang tinggi ini sebagai sebuah solusi bagi manusia. Tentunya ini adalah pekerjaan dakwah yang merupakan tanggungjawab setiap muslim dimana saja berada. Dengan tetap menjaga keistimewaan kita sebagai muslim, yaitu kesalehan.

Hari-hari terus berlalu, tampaknya si Bibi ini betul-betul perhatian dengan apa yang dicucinya. Sampai-sampai dia tahu ini pakaian si A, ini si B dan seterusya. Tidak terkecuali dengan pakaian kotor milik mahasiswa dari Timur Tengah tadi.

Namun, saat dilakukan sortir pakaian dalam, si Bibi merasa ada sesuatu yang tidak biasa, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaian muslim arab saja yang terlihat tidak kotor, tidak berbau, tidak kumuh, dan tidak juga banyak noda dipakaiannya.

Kejadian langka ini semakin mendorong rasa penasaran si Bibi. Lagi-lagi pencuci pakaian di asrama ini selalu merasa aneh saat mencuci celana dalam mereka. Berbeda dengan yang lain, kedua pakaian dalam mereka selalu tak berbau.

Maka masih dalam keadaan penasaran, si Bibi memutuskan bertanya langsung dengan ‘pemilik celana dalam’ itu. Saat ditanya kenapa. Dua orang ini menjawab, ”Kami selalu istinja setiap kali buang air kecil.”

Pencuci baju ini bertanya lagi, ”Apakah itu diajarkan dalam agamamu?”

“Ya!” Jawab dua orang pelajar muslim tadi.

Merasa belum yakin 100 persen dengan jawaban itu, akhirnya si Bibi datang menemui salah seorang tokoh muslim, yaitu Doktor Sholeh – Pengajar di sebuah perguruan Tinggi Islam di Saudi, saat ia ditugaskan ke Inggris – Wanita tua ini menceritakan keheranannya selama bertugas, perihal adanya pakaian dalam yang ‘aneh’.

Ada beberapa pakaian dalam yang tidak berbau, seperti kebanyakan mahasiswa umumnya, apa sebabnya?

Maka ustadz ini menceritakan, karena pemiliknya adalah muslim, agama kami mengajarkan bersuci setiap selesai buang air kecil maupun buang air besar, tidak seperti mereka yang tidak perhatian dalam masalah seperti ini.

Betapa terkesan ibu tua ini, jika untuk hal yang kecil saja Islam memperhatikan apalagi untuk hal yang besar, pikir pencuci baju itu. Dan tidak lama kemudian, ia mengikrarkan syahadat, masuk Islam dengan perantaraan pakaian dalam.

Tidak disangka, ternyata diam-diam si tukang cuci masuk Islam, gemparlah para mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut, yang kebanyakan adalah non muslim. Mereka berusaha ingin tahu sebab musabab si Bibi masuk Islam.

Dia menjawab dengan yakin, bahwa dirinya sangat kagum dengan kawan muslim Arab ini, karena dari semua pakaian yang dicucinya, hanya pakaiannya sajalah yang terlihat tidak macam-macam. Dan dengan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dirinya dapat membedakan antara pakaian seorang muslim dan non muslim.

Hidayah memang bisa datang kapan saja, dimana saja, dan pada siapa saja. Sungguh takdir Allah benar-benar telah jatuh berketepatan dengan kegigihannya selama ini mengisi hari-hari di sisa hidupnya sebagai petugas laundry. Disinilah letak rahasia nikmat Allah yang Maha Agung yang mempertemukan antara takdirNya dan ikhtiar manusia. Sungguh Allah tidak pernah menyia-nyiakan amalan hidup seorang hambaNya.

(Di kutip dari: Majalah Al-Qawwam edisi 15, dzul qa’dah 1427 H Badiah, Riyadh)



Keterangan : Foto diatas ini memang sengaja tidak nyambung biar bikin penasaran. Foto diatas merupakan sindiran bagi mereka yang hobi merekayasa segala sesuatu dan dikait-kaitkan dengan ajaran yahudi/zionis/freemasonry/dsb.

(",)v
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

“Hello friend, jika artikel di atas menarik menurut kamu, jangan lupa berikan sepatah dua patah kata komentarnya ya.”