Pages

Subscribe:

Minggu, 01 Mei 2011

Si Kancil Dan Buaya



Pada zaman dahulu kala, Sang Kancil adalah binatang yang paling cerdik. Banyak binatang-binatang di dalam hutan yang datang padanya untuk meminta pertolongan, apabila mereka sedang menghadapi masalah.

Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang-binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak pernah sama sekali menunjukkan sikap yang sombong. Malah ia siap sedia kapan saja untuk membantu bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Suatu hari, Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Oleh karena makanan di sekitar kawasan kediamannya telah berkurang, maka Sang Kancil pun berjalan untuk mencari makanan diluar kawasannya tersebut.

Cuaca pada hari itu sangat panas, menyebabkan Sang Kancil merasa dahaga karena terlalu lama berjalan. Lalu ia berusaha mencari sungai yang terdekat. Setelah melewati hutan, akhirnya Kancil pun menjumpai dengan sungai yang sangat jernih airnya.

Tanpa membuang waktu lagi, Sang Kancil langsung meminum air sungai tersebut sepuas-puasnya. Kesegaran air sungai yang jernih itu, telah menghilangkan rasa dahaga yang diraasakan Sang Kancil sejak tadi.

Setelah itu, Kancil pun melanjutkan perjalannya menyusuri tebing sungai. Dan apabila terasa lelah, ia pun beristirahat sejenak di bawah pohon beringin yang sangat rindang di sekitar kawasan tersebut.

Kancil berkata di dalam hatinya, "Aku harus bersabar jika ingin mendapatkan makanan yang lezat-lezat". Setelah kepenatannya hilang, Sang Kancil menyusuri kembali tebing sungai tersebut, sambil memakan dedaunan kegemarannya yang terdapat disekitarnya.

Ketika ia tiba di suatu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil melihat sebuah kebun buah-buahan yang sedang berbuah dan ranum di seberang sungai. "Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut," fikir Sang Kancil.

Sang Kancil terus berfikir mencari akal, bagaimana untuk dapat menyeberangi sungai yang sangat dalam lagi deras arusnya itu. Tiba-tiba Sang Kacil melihat Sang Buaya yang sedang asyik berjemur di tebing sungai.

Sudah menjadi kebiasaan buaya, apabila hari panas, maka ia suka berjemur untuk mendapatkan basuhan hangat sinar matahari. Tanpa berlama-lama lagi, kancil lantas menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata, "Hai sabahatku Sang Buaya, apa khabar kamu hari ini?"

Buaya yang sedang asyik menikmati sinar matahari itu, langsung membuka matanya dan melihat sang kancil yang menegurnya tadi, "Khabar baik sahabatku Sang Kancil," sambung buaya lagi "Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?"

Jawab Sang Kancil, "Aku membawa khabar gembira untuk kamu." Mendengar kata-kata Sang Kancil, Sang Buaya pun tidak sabar ingin mendengar khabar yang dibawa oleh Sang Kancil lalu berkata, "Ceritakan kepadaku, apakah yang engkau hendak sampaikan."

Kancil berkata, "Aku diperintahkan oleh Raja Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di dalam sungai ini, kerana Raja Sulaiman ingin memberi hadiah kepada kalian semua."

Mendengar nama Raja Sulaiman sudah menciutkan nyali semua binatang pada masa itu, karena Nabi Sulaiman telah diberi kebesaran oleh Allah untuk memerintah semua makhluk yang ada di muka bumi ini.

"Baiklah, kamu tunggu disini, aku akan turun ke dasar sungai untuk memanggil semua kawan-kawanku," kata Sang Buaya. Sementara itu Sang Kancil sudah berangan-angan untuk menikmati buah-buahan. Tidak lama kemudian semua buaya yang berada di dasar sungai berkumpul di tebing sungai.

Sang Kancil berkata, "Hai para buaya sekalian, aku telah diperintahkan oleh Nabi Saulaiman supaya menghitung jumlah kalian semua, karena Nabi Sulaiman akan memberikan hadiah yang istimewa pada hari ini untuk kalian semua," kata kancil lagi "Berbarislah kalian secara teratur di sungai, berawal dari tebing sebelah sini, hingga ke tebing disebelah sana."

Oleh karena perintah tersebut datangnya dari Nabi Sulaiman, semua buaya segera berbaris dengan teratur tanpa berani membantah. Kata Buaya tadi, "Sekarang hitunglah, kami sudah siap."

Sang Kancil mengambil sepotong kayu yang berada disitu, lalu melompat ke atas buaya yang pertama di tepi sungai dan ia pun mulai menghitung dengan berteriak, "Satu, dua, tiga, empat, jantan, betina, aku getuk," sambil mengetuk kepala buaya sampai kancil berhasil menyeberangi sungai.

Ketika telah sampai di tebing seberang, kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil bersorak kegembiraan dan berkata, "Hai buaya-buaya sekalian, tahukah kamu bahwa aku telah menipu kalian semua dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman untuk kalian."

Mendengar kata-kata Sang Kancil, semua buaya merasa sangat marah dan malu, karena mereka telah berhasil ditipu oleh kancil. Mereka bersumpah tidak akan melepaskan Sang Kancil jika bertemu pada masa yang akan datang.

Dendam buaya-buaya tersebut terus membara hingga detik ini. Sementara itu Sang Kancil terus melompat riang dan meniggalkan buaya-buaya tersebut, terus menghilangkan diri ke dalam kebun buah-buahan untuk menikmati buah-buahan yang sedang masak dan ranum itu.

(",)v




Sumber : dongengkakrico.com, berbagai sumber lainnya Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Hello friend, jika artikel di atas menarik menurut kamu, jangan lupa berikan sepatah dua patah kata komentarnya ya.”