Pages

Subscribe:

Selasa, 28 Januari 2014

Penyesalan (Renungan)




Yasin berusia 15 tahun saat itu. Ia lulus dari SMP dengan nilai buruk. Orang tuanya lantas memasukkan Yasin ke sebuah pesantren. Namun, Yasin tidak suka hidup di pesantren. Menurutnya pesantren terbelakang, dan tidak sesuai dengan gaya hidupnya.

Ia kesal dan marah. Namun, ia dan orang tuanya tak punya pilihan lain sebab ia tidak diterima di SMA Negeri. Sedang untuk masuk sekolah swasta, orang tuanya tak mampu. Maka Yasin dimasukkan pesantren karena terbentur masalah ekonomi.

Baru tiga hari di pesantren, ia sudah tak betah. Mandi antri, makan antri, sandal hilang lenyap. Pendek kata, ia tak betah. Apalagi pelajaran, jangankan soal fikih, nahwu, sharaf, tafsir, hadis, dan segudang ilmu lainnya, membaca Al Qur'an pun ia tidak sanggup.

Semua itu menjadi akumulasi kekesalan Yasin yang membuat ia ingin keluar pesantren. "Tak sanggup aku belajar di sini" gumam batin Yasin.

Menjelang Maghrib, sirene meraung keras ke segala penjuru pesantren untuk memaksa semua santri segera ke masjid. Para ustadz dan santri senior mengatur duduk para santri di masjid.

Tradisi di pesantren itu melazimkan seluruh santri membaca surat al-Waqiah dan al-Mulk sebelum Maghrib. Yasin pun turut serta sambil memegang Al Qur'an. Amat sulit ia mencari kedua surah itu, sebab memang jarang membaca Al Qur'an.

Seorang bocah kelas dua Tsanawiyah (setingkat SMP) yang duduk di sebelahnya, memperhatikan Yasin. "Mari aku bantu mencarinya, kak," kata anak itu. Namanya Ahmad. Dalam hitungan detik, Ahmad sudah menemukan letak kedua surah itu.

Ketika bacaan ta’awaudz dan basmalah dimulai dan diikuti seluruh santri, Yasin mencoba menirukannya. Namun, begitu ayat selanjutnya, Yasin tak mampu lagi mengikutinya. Alih-alih bisa menirukan, membaca saja dia tak tahu. Yasin terlihat gelagapan.

Ia kesal karena tak bisa mengikuti bacaan para santri lainnya. Dari dalam hatinya, muncul rasa malu. Sebab, ia yang duduk di kelas 1 SMA, kalah dengan bacaan anak usia di bawahnya, seperti Ahmad.

Ia memandangi Ahmad yang begitu menikmati bacaannya. Ahmad mengikuti bacaan Al Qur'an imam dengan begitu rileks. Fasih sekali bacaannya. Suaranya pun terdengar merdu di telinga Yasin. Tampaknya, Ahmad sudah hafal kedua surah itu.

Menyaksikan kebodohannya itu, Yasin benar-benar merasa dipermalukan. Ia iri melihat Ahmad dan para santri lainnya yang lancar membaca Al Qur'an. Ia pandangi Al Qur'an itu hingga air matanya menetes di pipinya.
Tergambar penyesalan dibenaknya. Usianya sudah 15 tahun, namun belum bisa membaca Al Qur'an. "Ya Allah, ke mana saja saya selama ini?" ujarnya mulai sadar.

Sejak saat itu, Yasin bertaubat kepada Allah SWT dan giat belajar membaca Al Qur'an. Ia gunakan waktu yang ada untuk belajar dan terus belajar untuk mengejar ketertinggalannya.

Usahanya tak sia-sia. Selama tiga tahun di pesantren atau enam semester, ia menjadi juara umum di sekolahnya. Bahkan, atas prestasinya itu, ia juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Kini, Yasin telah berusia 40 tahun. Ia mengenang kisah itu di hadapan saya dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat menyesal, karena selama belasan tahun telah membuang umur dengan sia-sia. Saya memohon ampunan kepada Allah,” ujarnya.

Itulah momen hidayah yang didapatkan Ustadz Yasin. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : Ustadz Bobby Herwibowo
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

“Hello friend, jika artikel di atas menarik menurut kamu, jangan lupa berikan sepatah dua patah kata komentarnya ya.”