Pages

Subscribe:

Selasa, 18 Desember 2012

Menapaki Peradaban Islami (Renungan)




“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka, berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: 36).

Ada dua esensi dari QS. An-Nahl di atas, yaitu seruan pentauhidan dan perintah agar manusia menelusuri kembali sebuah peradaban.

Seperti yang kita ketahui bersama, jauh sebelum Islam lahir, manusia telah mampu melahirkan peradaban yang luar biasa. Namun, karena peradaban itu tidak didasari kepatuhan pada Tuhan, maka penduduknya pun—Kaum Ad, Tsamud, Nuh, Sodom, Musa— hancur binasa.

Peradaban (civilization) diartikan oleh Sayyid Quthb sebagai apa yang diberikan manusia berupa bentuk-bentuk gambaran, pemahaman, konsep dan nilai kebaikan untuk menuntun manusia. Definisi dari penulis tafsir “Fii Zhilalil Qur'an” ini bahwa peradaban sesungguhnya dapat menuntun manusia bukan hanya pada urusan-urusan dunia, namun juga sebagai pengabdian pada Tuhan.

Peradaban dunia diawali oleh peradaban Yunani dengan para pencetus termasyhur seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Setelah peradaban Yunani jaya dan mengalami masa kehancurannya, peradaban India mulai tampil ke permukaan dengan nilai spiritualitas yang tinggi dan menawarkan sistem kasta.

Usai peradaban India, Romawi dan Persia pun memberikan sumbangsihnya terhadap peradaban dunia. Jika peradaban Persia unggul dalam bidang tata Negara, politik, dan strategi perangnya, maka Romawi lebih memfokuskan diri kepada bentuk pengabdian pada beberapa dewa dan ekspansi.

Mengutip Prof. Dr. Raghbi As-Sirjani, bahwa sisi negatif peradaban sebelum Islam ialah tiadanya nilai moral dan penghormatan kepada sesama. Pendapat Raghbi didukung oleh Will Durrant dalam “The Story of Civilization”.

Ia menuturkan, bahwa peradaban Yunani bukan peradaban yang baik dalam bidang akhlak dan sangat tidak manusiawi. Pendapat Will Durrant beralasan, sebab kalau kita kaji lebih dalam, bahwa peradaban Yunani yang memang unggul dalam bidang filsafat, menghalalkan pembunuhan terhadap anak daripada tidak terpenuhi kebutuhannya.

Selain itu, seks bebas pun merajalela, dan munculnya rasa tidak simpati terhadap sesama. Plato juga mencetuskan istilah kota yang berdaulat yang terdiri atas empat golongan, yaitu ahli filsafat, tentara, pekerja dan petani.

Tidak berbeda dengan sistem kasta India, urutan terbawah dalam India, yaitu kasta Sudra, nasibnya sama dengan golongan petani dalam konsep pemikiran Plato.

Berbeda dengan empat peradaban besar dunia di atas, Islam lahir sebagai penyambung antara peradaban kuno dengan peradaban modern. Peradaban Islam dibangun atas empat pilar dasar, yaitu universalitas, tauhid, seimbang, serta adanya sentuhan akhlaq. Jika sistem kasta India membuat sebagian golongannya merana, Islam hadir dengan nuansa berbeda.

Pertama, nilai universalitas, bahwa semua manusia sama di hadapan Allah yang membedakannya hanyalah takwa (QS. Hujurat: 13). Kedua nilai tauhid. Nilai tauhid ini memiliki makna bebas dari menghamba selain pada Allah.

Ketiga, seimbang, yang berarti peradaban islam mampu mensinergikan antara hubungan dengan Tuhan (hablumminallah), juga hubungan dengan manusia (hablumminannas), sehingga keduanya dapat berjalan bersama, tanpa harus menyisihkan salah satunya.

Terakhir, sentuhan akhlak. Inilah yang membedakan peradaban Islam dengan peradaban besar sebelumnya. Peradaban Islam mampu menggabungkan antara teori dengan realitas.

Jika pada taraf teorinya dalam nash Al Qur'an kita harus berbuat baik terhadap sesama, maka dalam praktiknya, kita dituntut mampu untuk menghapuskan segala bentuk kesenjangan sosial, meniadakan sistem kasta, pembunuhan, perdagangan manusia, sampai pada tingkat penghapusan perbudakan.

Tak berlebihan jika peradaban Islam adalah peradaban abadi yang bersifat universal, sehingga semua manusia dapat menerima secara logika, sebab sumber orisinil dalam peradaban Islam ialah wahyu.

(",)v




Sumber : republika.co.id
Oleh : Ina Salma Febriani
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

“Hello friend, jika artikel di atas menarik menurut kamu, jangan lupa berikan sepatah dua patah kata komentarnya ya.”