
Bumi Terbujur
bumi terbujur
ada banyak luka menganga
pada jasadnya
nafasnya tinggal
bagai benang rantas
sepertinya akan segera putus
oleh sekali retas
tapi, aneh, tak putus-putus juga
meski masih ada yang terus tega
mengerat-ngeratnya
dengan bangga
bagaimana, o,
bila benar-benar putus?
dengan was-was mata hari
hanya mengawasi
o, bumi
apa yang kau rasakan?
apa yang bisa kulakukan?
wahai para malaikat di langit
wahai para jin dan dedemit
yang terjepit
ikutlah mengamini doaku :
allah, selamatkanlah bumiku!
wahai hujan, angin, dan taufan
wahai lautan dan daratan
yang tertekan
ikutlah mengamini doaku :
allah, selamtkanlah bumiku!
wahai gunung-gunung dan bebatuan
wahai burung-burung dan rerumputan
yang tercampakkan
ikutlah mengamini doaku :
allah, selamtkanlah bumiku!
wahai daun-daun yang berguguran
wahai bunga-bunga berserakan
yang terabaikan
ikutlah mengamini doaku :
allah, selamtkanlah bumiku!
wahai segenap binatang melata
wahai segenap rakyat jelata
yang tersia-sia
ikutlah mengamini doaku :
allah, selamtkanlah bumiku!
wahai tanah yang memerah yang menyerap darah
wahai arwah syuhada yang pasrah
ikutlah mengamini doaku :
allah, selamtkanlah bumiku!
wahai para wali penjaga mataangin
wahai para empu yang bersemayam di atas angin
ikutlah mengamini doaku :
allah, selamtkanlah bumiku!
wahai orang-orang madhlum yang tak berdaya
wahai jiwa-jiwa yang tak ternoda
ikutlah mengamini doaku :
allah, selamtkanlah bumiku!
amin.
(",)v
K.H. A. Mustofa Bisri, 1416/1995
Wekwekwek - Sajak-Sajak Bumilangit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
“Hello friend, jika artikel di atas menarik menurut kamu, jangan lupa berikan sepatah dua patah kata komentarnya ya.”